Memimpikan Ekosistem Software Development Ideal di Indonesia
Memimpikan Ekosistem Software Development Ideal di Indonesia

Memimpikan Ekosistem Software Development Ideal di Indonesia

Memimpikan Ekosistem Software Development Ideal di Indonesia

Siang hari itu, di sebuah kafe di daerah Kemang saya bertemu dengan seorang wanita yang sangat terkenal dalam kalangan technology startup dan software development Indonesia. Namanya semakin sering saya dengar belakangan ini semenjak ia resign dari perusahaan yang pernah ia rintis. Namun untuk bertemu dengan dirinya untuk membicarakan ekosistem software development di Indonesia tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Gaya saya dengan gaya dia dalam membicarakan perubahan seperti dua ekstrim yang saling bertolak-belakang. But that is life. Full of mystery and unwritten future.

Pembicaraan kami dimulai dengan keprihatinan saya dengan semakin ngetrennya tech-startup maupun beberapa korporasi di Indonesia yang memiliki Chief Technology Officer (CTO) dari negara-negara seberang seperti India. Saya bertanya kepada dirinya apakah memang pada tingkatan tertentu software developer Indonesia kalah pintar dengan software developer dari negara seberang seperti India? Hal ini terjadi karena selama puluhan tahun dosen-dosen di jurusan teknik informatika di banyak universitas menekankan kalau software developer hendaknya jadi profesi batu loncatan saja. Doktrin yang berkembang adalah seorang sarjana teknik informatika hendaknya jadi system analyst hingga menjadi manajer proyek saja. Kalau dulu mahasiswa didoktrin untuk menjadi system analyst, sekarang ini dosen-dosen di universitas mengajar mahasiswa untuk membuat proposal ke investor daripada membuat great product. Akhirnya Indonesia pun mengalami defisit software developer hebat sehingga posisi strategis seperti CTO dan Vice President (VP) Engineering diisi oleh orang-orang dari negara-negara lain.

Pembicaraan kami pun berlanjut membahas tentang permasalahan ekosistem software development di Indonesia yang begitu kompleks dan sistemik. Di siang hari itu kami belum bisa memformulasikan bagaimana mengurai permasalahan yang begitu sistemik ini. Dari diskusi itu kami cuma bisa datang dengan model ekosistem software development yang ideal di Indonesia yaitu ketika :

  • customer memiliki compassion;
  • manajer memimpin dengan melayani;
  • dan software developer yang berdiri teguh di atas professionalisme.

1. Compassionate customers

When faced with our human imperfection, we can either respond with kindness and care, or with judgment and criticism.
— Kristin Neff

Sebagian besar permasalahan di dalam software development terjadi karena tidak adanya compassion dari kostumer terhadap software developer. Ketika manajer pasrah tidak bisa berbuat apa-apa yang menyebabkan software developer stress dan lembur, hal ini terjadi karena kostumer yang bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu. Arogansi kita seringkali menyakitkan pihak lain yang ada di belakang layar.

Manifestasi perilaku ‘uncompassionate’

Low respect

The more interested you are with others, the more interesting you become.

Manifestasi dari tidak adanya compassion tersebut adalah dengan menganggap remeh sifat pekerjaan software development. Perilakunya adalah dengan menggunakan bahasa-bahasa seperti:

  • “Ini gampang kok, cuma ganti teks, paling 5 menit juga selesai.”
  • “Ya elah, masa gitu aja gak bisa sih.”
  • “Kemarin ini kan sudah pernah dilakukan.”

Sebagai kostumer kita berpikir kalau software developer adalah orang yang bisa membaca pikiran kita dan kita beranggapan kalau membaca pikiran seseorang adalah pekerjaan yang mudah.

Low trust

Manifestasi lainnya dari tidak adanya compassion adalah dengan tidak adanya rasa percaya terhadap software developer yang dilanjutkan dengan denda bahkan tidak jarang ditambah dengan ancaman. Ekosistem software development menjadi lingkungan dimana semua orang mencari aman supaya tidak ada yang terkena hukuman. Ekosistem software development di Indonesia juga penuh dengan kecurigaan. Semua orang jadi pandai berpolitik dan tidak berani untuk transparan. Low trust antara klien dan vendor software terjadi hampir dimana-mana di negeri Indonesia ini. Dan bukannya berusaha membuat ekosistem software development yang penuh dengan trust, orang-orang di negeri ini justru menambahkan lapisan demi lapisan ancaman dan hukuman dalam kontrak ataupun perjanjian kerja.

Mengharapkan kepastian

Our limited knowledge creates a distorted perception of the reality.

Dalam kamus kita, sebagai kostumer kita adalah raja karena kita adalah pihak yang membayar sehingga kita berhak untuk mendapatkan apapun yang kita mau. Pada dasarnya kostumer adalah pihak yang demanding. Namun apakah hal tersebut masih relevan ketika sebagai kostumer kita justru tidak tahu apa yang kita mau? Banyak permasalahan yang terjadi dalam software development seperti pemanipulasian estimasi dan tidak adanya transparansi dalam kualitas software dimulai dari perilaku kita sebagai kostumer yang tidak memiliki kerendahan hati untuk menerima ketidak-pastian. Belum lagi kerugian waktu yang terbuang-buang hanya untuk mendapatkan requirement yang sempurna yang pada akhirnya juga akan berubah di masa depan.

Cara berpikir yang lebih alami

Focus on goal than quantity of features

Our job isn’t to stick to the plan — it’s to steer our course for the best result, not some fixed target.
— Ron Jeffries

Sebagai kostumer kita memiliki mindset untuk mendapatkan lebih dengan harga minim. Oleh karena itu kecenderungan kita mengukur suksesnya proyek dengan berapa banyak fitur yang telah dihasilkan oleh software developer. Namun jumlah fitur tidak menandakan kita telah mencapai goal kita ataupun mendapatkan value dari fitur-fitur tersebut. Kita bisa saja mendapatkan ratusan fitur yang tidak menghasilkan value sama sekali untuk bisnis kita. Di sisi lain software developer mindsetnya akan terpaku hanya untuk menghantarkan fitur sebanyak mungkin tanpa peduli dengan nilai ekonomis dari fitur yang dihantarkan. Tidak jarang software developer akan memangkas kualitas asalkan seluruh fitur dihantarkan. Dan dalam keadaan seperti itu sebenarnya kita juga sudah rugi materi karena kita mengeluarkan uang untuk fitur-fitur yang tidak meningkatkan value untuk bisnis kita.

Short Feedback Cycle

Don’t wait for things to be perfect before you share them with others. Show early and show often. It’ll be pretty when we get there, but it won’t be pretty along the way. And that’s as it should be. — Ed Catmull

Feedback bernilai tinggi. Membuat perencanaan berdasarkan apa yang kita tidak bisa prediksi itu tidak realistis. Feedback dibutuhkan ketika kita tidak tahu apa yang kita mau. Feedback ini didapatkan sesering mungkin sepanjang proyek. Daripada menghabiskan waktu untuk mendapatkan kepastian yang realitanya hampir tidak pernah ada dalam software development, kita membuat short feedback cycle dari harian dan mingguan melihat working software untuk menjaga resiko return on investment kita tidak maksimal.

Dalam proses pembuatan film animasi, Pixar melakukan daily dan weekly cycle untuk melihat progress film sampai anggaran pembuatan film habis. Walaupun di awal mereka membuat story board film secara keseluruhan namun mereka meninjau pekerjaan mereka di dalam daily dan weekly cycle karena mereka menyadari banyaknya ketidak-pastian sebelum mereka memulai proyek. Keluaran dari daily dan weekly cycle ini mereka memantau apakah mereka perlu mengganti haluan agar target mereka bisa tetap tercapai. Hanya dengan adanya short feedback cycle ini kita jadi benar-benar tahu mengenai apa yang sebenarnya kita inginkan. Mindset yang paling penting adalah tidak mengharapkan kepastian namun mengakui kalau yang pasti adalah adanya ketidak-pastian.

Dalam software development, karena sebagai kostumer sebenarnya kita tidak tahu apa yang kita mau dan software merupakan benda yang abstrak dimana requirementnya sulit diterjemahkan ke dalam dokumentasi, maka cara yang lebih efektif adalah software developer akan menunjukkan progress software ke kostumer setiap hari untuk mendapatkan feedback apakah nilai (value) dari softwarenya hingga hari ini sudah sesuai keinginan kostumer. Setiap minggu sampai setiap dua minggu kostumer akan berkolaborasi dengan software developer untuk mengukur apakah software yang telah dihasilkan tersebut sudah memberi nilai yang tinggi untuk bisnis sesuai investasi awal. Dari feedback mingguan atau dwi-mingguan tersebut kostumer dan software developer akan membuat perencanaan untuk cycle berikutnya sampai anggaran proyek yang kita miliki habis atau hingga momentum yang ditargetkan tercapai.

Engaged Customers

You can’t just ask customers what they want and then try to give that to them. By the time you get it built, they’ll want something new.
– Steve Jobs

Sebagai kostumer kita harus membuka diri untuk berkolaborasi dengan software developer di cycle harian hingga cycle mingguan untuk meningkatkan nilai dari software yang dikembangkan. Mindset yang penting adalah kolaborasi bukan penggunaan kekuatan politik. Bukankah pada akhirnya ketika software tersebut sesuai dengan harapan kita dan dapat meningkatkan nilai untuk bisnis kita akhirnya kita juga yang diuntungkan?

Menjadi kostumer yang demanding dan otoriter itu sangat mudah. Bukankah hampir semua kostumer seperti itu? Tetapi yang menjadikan kita beda dan yang bisa merubah ekosistem software development adalah diri kita sendiri. Memiliki compassion terhadap software developer tidaklah mudah karena membutuhkan kerendahan hati. Kita bisa membawa perubahan dengan merubah diri kita sendiri terlebih dahulu dengan cara merubah ekspektasi kita terhadap software development dan berusaha memahami sifat pekerjaan software developer yang kompleks.

Bersambung...

...Ref : https://medium.com/modern-management/memimpikan-ekosistem-software-development-ideal-di-indonesia-ac85942246f9...

Share This

Comments