Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia
Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia

Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia

Di awal abad 20, kita memiliki sebuah organisasi pemuda bernama Budi Utomo, sebuah cikal bakal lepasnya Indonesia dari penjajahan. Di awal abad 21 ini kita memerlukan lebih banyak lagi anak-anak muda praktisi software development yang sepakat untuk melepaskan diri dari belenggu cara berpikir yang sudah tidak relevan lagi dengan abad 21. Hari ini kita tidak lagi dijajah oleh Belanda yang berbentuk serikat dagang melainkan oleh cara berpikir kuno dan Belanda dalam bentuk lain. It’s #timeforchange!

Dunia yang kita tumpangi sudah berubah. Kita sudah tidak bisa lagi angkuh dan menutup pikiran kita. McKinsey mencatat kalau preferensi seseorang dalam mencari nafkah sekarang ini sudah mulai bergeser. Jeff Kennett bahkan mengatakan kalau gaji CEO sekarang ini seharusnya dikaitkan dengan tingkat stress (mental health) para pegawainya. John Chambers mengatakan kalau selama 10 tahun ke depan sekitar 1/3 dari bisnis hari ini beroperasi tidak akan eksis karena akan muncul orang-orang jenius dengan ide-ide revolusioner. Software is eating the world. Dunia sudah berubah dan kita harus mau merubah cara pandang kita terhadap software developer bila kita ingin kompetitif dengan bangsa lain dan bukan hanya menjadi bangsa konsumen teknologi karya bangsa lain.

1. Software developer adalah pekerjaan kasta bawah

Slaves are not allowed to say no. Laborers may be hesitant to say no. But professionals are expected to say no. Indeed, good managers crave someone who has the guts to say no. It’s the only way you can really get anything done.
— Robert C. Martin

Mindset paling f*cked up yang masih beredar di banyak perusahaan-perusahaan dan perguruan tinggi di Indonesia hingga hari ini adalah pandangan dimana software developer adalah pekerjaan kasta bawah. Akhirnya terbentuklah pola pikir dari lulusan informatika kalau software developer adalah profesi batu loncatan sebelum mereka menjadi analyst atau manajer proyek. Ajaran turun-temurun selama empat generasi ini masih didoktrin oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia hingga hari ini.

                                              Pemetaan struktur pabrik manufaktur ke organisasi software development

Sebagai buruh kode, software developer dipandang sebagai seseorang yang inferior yang mendapatkan instruksi dari seseorang yang lebih superior bernama manajer atau supervisor. Mindset ini berangkat dari sudut pandang kalau software development bukanlah pekerjaan inovatif dan kreatif. Mindset ini berangkat dari sudut pandang kalau software developer adalah buruh pabrik penghasil kode karena software development dipetakan dengan pekerjaan manufaktur atau proyek konstruksi bangunan. Padahal dewasa ini tanpa disadari banyak software developer di dunia yang billionaire.

Beberapa manifestasi dari mindset kuno ini adalah :

  • Software developer yang mendapatkan penghasilan di bawah manajer proyek.
  • Pimpinan perusahaan yang tidak bisa menerima kata TIDAK dari software developer.
  • Pada saat software developer harus lembur menyelesaikan deadline, manajer bisa santai di rumah menonton sinetron bersama keluarga.

Akhirnya mereka bermental buruh

self-fulfilling prophecy (n): a prediction that directly or indirectly causes itself to become true, by the very terms of the prophecy itself, due to positive feedback between belief and behavior.

Self-fulfilling prophecy dari pemikiran tradisional di industri software development: “ketika kita memandang software developer sebagai buruh pabrik maka pada akhirnya kita akan mendapatkan software developer dengan mental buruh pabrik”. Bagaimana bangsa ini bisa mendapatkan inovator-inovator kalau software developer secara nasional dari Sabang sampai Merauke masih diperlakukan sebagai komoditas dan masih dipandang sebagai buruh pabrik? Oleh karena itu jangan heran kalau banyak software developer di perusahaan kita yang memiliki mental buruh pabrik: pasif, ignorant, tidak mau terus menerus belajar teknik software development terkini, takut mengambil keputusan, tidak bisa self-manage. Ini semua karena self-fulfilling prophecy.

Kita perlu berimajinasi lebih di abad 21

Imajinasi kita mengenai kepemimpinan sungguh terbatas seperti pandangan kacamata kuda. Imajinasi kita membayangkan seorang pemimpin adalah seseorang yang memerintah software developer menggunakan otoritas. Tipe pekerja inovatif seperti software developer memerlukan sosok pemimpin yang memimpin dengan menjadi contoh (leading by example) tanpa menggunakan otoritasnya. Software developer perlu pemimpin yang dapat menginspirasi dan menstimulasi imajinasinya. Software developer pun seharusnya dapat berkarir secara profesi menjadi thought leaders bukan harus naik jenjang dalam struktur perusahaan karena tidak semua software developer suka dengan manajemen. Software developer harus bangga dengan profesinya dan perlu dihargai bila kita ingin mendapatkan inovator-inovator di negeri ini.

People department dan pimpinan perusahaan perlu merevolusi cara mereka memandang software developer di perusahaan mereka dan perlu menerapkan dwi-model jenjang karir sama seperti yang diterapkan di rumah sakit. Kita sudah tidak bisa angkuh memaksakan pola pikir kuno di tengah jaman yang semakin modern ini.

Bersambung....

MITOS KUNO PENJAJAH EKOSISTEM SOFTWARE DEVELOPMENT INDONESIA

1Software developer adalah pekerjaan kasta bawah

2Obsesi mengukur software developer

3. Tidak bisa menerima ketidak-pastian

4. Yang penting jalan dulu deh

5. Kekuatan politik selalu menang

---

 

...Ref : https://medium.com/modern-management/5-mindset-kuno-penjajah-ekosistem-software-development-indonesia-47e17f33cbe3...

Share This

Comments