Mitos Industri Software Development Indonesia
Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 2

Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 2

1. Software Developer = Resource

Selalu ada saja yang mengkorelasikan software developer sebagai resource.

Pak, bagaimana apabila resource kami terbatas? Apakah Scrum … ?

Pertanyaan seperti itu selalu langsung saya potong karena resource yang dikorelasikan dengan software developer sangat mengganggu kuping saya. Menurut kamus bahasa inggris, arti dari kata resource adalah :

resource (n). a place or thing that provides something useful and can be used whenever it is needed.

Sayangnya software developer bukanlah a thing (benda) yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu bila dibutuhkan. Software developer memiliki pemikiran dan perasaan.

Apa itu manajemen?

Banyak teori manajemen yang dianut di Indonesia didasari oleh teori Scientific Management, yang berkembang di sekitar tahun 1910-an. Teori ini berkembang dari lingkungan produksi di pabrik. Oleh karena itu teori ini lebih banyak menekankan pada efisiensi dan produktifitas karyawan pabrik. Teori ini sangat menekankan posisi manajer yang bertugas untuk mengatur karyawan pabrik (labor). Peran manajer dipandang sebagai peran yang sangat penting oleh karena itu manajer haruslah orang-orang yang pintar. Tapi sayangnya Scientific Management ini tidak relevan di industri software development di abad 21.

Manager’s responsibility is not to make people work, but to make it possible for people to do their work.Manager’s responsibility is not to make people work, but to make it possible for people to do their work.

Sifat pekerjaan dalam lini development tentunya sangat berbeda dengan lini produksi di pabrik. Software developer bukanlah buruh yang menulis kode seperti buruh pabrik. Hal ini dikarenakan kode yang ditulis oleh software developer sifatnya tidak selalu sama dan algoritma yang ditulis oleh software developer memerlukan tingkat kecerdasan yang tinggi. Paradigma dimana software developer adalah resource didasari oleh pemikiran kalau software developer adalah spare part yang dapat digantikan. Pola pikir tersebut membuat banyak perusahaan di Indonesia menekan biaya software developer serendah mungkin karena software developer hanya dipandang sebagai spare part (resource).

People are NOT Resource

Dalam ilmu akuntansi, resource atau sumber daya seperti mesin fotokopi, komputer, alat tulis, kendaraan kantor maupun gedung dilihat sebagai expense dikarenakan seiring dengan waktu resource ini akan mengalami penyusutan atau depresiasi nilai. Buruh-buruh pabrik pun di dalam pembukuan akuntansi dianggap sebagai expense. Karena buruh dipandang sebagai expense, di banyak perusahaan di Indonesia, software developer pun dilihat sebagai expense. Software developer diperlakukan sebagai “sumber daya” yang harus digunakan semaksimal mungkin daripada diperlakukan seperti manusia yang potensinya perlu dikembangkan.

Cara berpikir bahwa software developer adalah resource dan expense ini memiliki kejanggalan karena software developer sebenarnya adalah sebuah capital investment untuk perusahaan. Software developer tidak akan mengalami penyusutan, namun sebaliknya seiring dengan waktu mereka akan menjadi semakin pintar karena mereka adalah knowledge worker yang menggunakan otaknya untuk bekerja bukan ototnya. Ilmu yang ada di dalam kepala software developer tidak akan usang, kecuali mereka tidak mau terus menerus belajar dan up-to-date dengan perkembangan jaman lagi. Dan bila mereka semakin pintar, maka software yang mereka kembangkan akan semakin berkualitas tinggi.

Software developer bukanlah resource yang perlu dimanage. When software developers are over-managed, they will under-manage themselves. Mereka adalah manusia. Mereka adalah knowledge worker. Mereka adalah capital investment dimana capital utama mereka adalah pengetahuan.

bersambung....

...ref : https://medium.com/modern-management/5-mitos-di-industri-software-development-indonesia-df5045350e45...

Share This

Comments