Mitos Industri Software Development Indonesia
Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 4

Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 4

3. Sukses = On-Time, On-Budget dan On-Scope

Di awal tahun ini, dalam sebuah perjalanan pulang dari outing kantor dimana saya pada waktu itu menjadi trainer untuk tim di perusahaan tersebut, menuju Jakarta salah seorang dari peserta outing mendapatkan sebuah pesan singkat dari atasannya yang isinya kira-kira adalah:

“Jangan lupa ya John, target kita tahun ini adalah Always On”.

Pemikiran yang menekankan kalau sukses adalah On-Time, On-Budget dan On-Scope berasal dari teori manajemen proyek tradisional. Tiga kriteria sukses ini seringkali disebut dengan Project Management Iron Triangle. Kalau tipe proyek atau tipe pekerjaan yang dilakukan adalah prediktif seperti membuat burger maka pemikiran ini dapat diterima oleh akal sehat. Namun mengembangkan software tidak sama dengan membuat burger.

Solusinya adalah lembur

Di banyak perusahaan di Indonesia, overtime sering kali dijadikan solusi agar software yang telah dijanjikan oleh pihak manajemen ke kostumer bisa selesai tepat waktu. Seolah-olah kalau software yang sedang dikembangkan tersebut tidak selesai tepat waktu maka dunia akan kiamat. Namun dilihat dari sisi manapun juga, lembur sangatlah tidak efektif.

“Overtime” will always be followed by an equal period of “undertime” where people trying to catch up with their lives.

Setiap jam software developer lembur, setiap jam juga mereka akan kehilangan waktu dengan keluarga dan teman-temannya. Semakin sering mereka lembur, semakin mereka tidak memiliki kehidupan. Lembur adalah sebuah solusi jangka pendek namun dampak jangka panjangnya lebih menyakitkan. Atasan yang lebih peduli untuk memenuhi target Always-On daripada kehidupan anggota timnya adalah seorang atasan yang egois dan tidak manusiawi.

Running a company is not always about making profit, most importantly about making the life of others around us much better.

Kualitas tidak penting

Berdasarkan kamus perusahaan, definisi dari lembur adalah penambahan waktu untuk meningkatkan kuantitas pekerjaan bukan untuk meningkatkan kualitas software yang sedang dikembangkan. Bagi manajemen, men-deliver software lebih cepat walaupun dengan kualitas yang rendah itu lebih penting karena mereka beranggapan bahwa nantinya masih ada waktu di Post Implementation Review (PIR) atau User Acceptance Test (UAT) untuk memperbaiki software. Namun liciknya adalah manajemen akan tetap melaporkan kepada stakeholder dan kostumer kalau proyeknya sudah diselesaikan dengan sukses karena mereka sudah memenuhi kriteria on-time, on-scope dan on-budget, walaupun dengan kualitas rendah!

Menganggap bahwa software berkualitas rendah yang diselesaikan sesuai waktu, ruang lingkup pekerjaan dan dana yang ditetapkan sebagai sebuah kriteria kesuksesan bagaikan sebuah ilusi. Software development adalah sebuah seni, menulis kode yang bersih (clean code) memerlukan kehati-hatian ekstra dan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan menulis kode serabutan (dirty code). Kode yang berkualitas rendah akan semakin memperlambat penambahan fitur baru dan semakin meningkatkan biaya untuk maintenance software di jangka panjang. Saya sudah sering melihat software developer yang mengundurkan diri dari sebuah perusahaan karena software yang ia kelola berkualitas rendah. Perusahaan di Indonesia yang bangkrut karena kualitas software yang mereka kembangkan rendah juga banyak.

Bersambung....

...ref : https://medium.com/modern-management/5-mitos-di-industri-software-development-indonesia-df5045350e45...

Share This

Comments