Mitos Industri Software Development Indonesia
Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 5

Mitos Industri Software Development Indonesia - Part 5

4. Produktivitas = kuantitas waktu bekerja

Kualitas waktu tinggi = kualitas software tinggi

Dalam dunia software development, waktu untuk berpikir/melamun adalah sesuatu yang sangat penting karena software berkualitas dibuat oleh knowledge worker yang menggunakan otaknya bukan ototnya. Di mayoritas perusahaan di Indonesia, seorang software developer dikatakan produktif apabila ia duduk dan mengetik kode dalam jangka waktu yang lama. Bahkan ada perusahaan di Indonesia yang mengukur produktivitas software developer berdasarkan jumlah baris kode yang ditulis oleh software developer dalam sehari. Bila software developer sedang melamun atau sedang jalan-jalan di taman, maka mereka dianggap tidak bekerja dan merugikan perusahaan. Bagaimana apabila pada saat mereka melamun mereka sedang memikirkan sebuah algoritma yang dapat membuat kode menjadi lebih efisien dan bersih (clean code)? Bagaimana apabila lamunan tersebut menghasilkan pemikiran yang membuat user experience software menjadi semakin bagus? Software developer itu bagaikan seorang seniman lukis, ketika mereka sedang melamun mereka sebenarnya sedang produktif. Kalau anda bukan seorang software developer, anda tidak akan memahami ini.

Interupsi tiada henti

Wired-in adalah sebuah keadaan dimana software developer terhubung ke kode yang sedang mereka tulis sama seperti saat seseorang melakukan meditasi tanpa menyadari apa yang telah terjadi di sekitarnya dan berapa banyak waktu yang terlalu ketika ia sedang menulis kode tersebut. Kalau anda adalah seorang software developer, tentunya anda tahu apa yang sedang saya maksud.

For knowledge workers like software developer, being in the flow is important because only when they are in the flow their work goes well.

Namun sayangnya berdasarkan pengamatan, software developer sering kali mendapatkan interupsi yang terlalu banyak sehingga merusak flow mereka menulis kode. Karena mereka jarang sekali untuk bisa in the flow, akibatnya kualitas waktu yang mereka miliki selama mereka berada di kantor sangat rendah. Jumlah waktu yang habis dalam satu hari karena jumlah meeting dan teleconference yang harus mereka hadiri lebih banyak dari jumlah waktu yang mereka dedikasikan untuk menulis kode. Belum lagi ditambah interupsi tidak penting dari atasan dan dari pengguna. Akhirnya mereka baru bisa benar-benar berkonsentrasi penuh untuk menulis kode yang cantik setelah jam kantor selesai. Oh iya, belum lagi ditambah beberapa proyek yang harus dikerjakan secara paralel oleh software developer membuat waktu berkualitas mereka menurun.

The quality of software developer’s time is important, not just its quantity.

Interrupsi membuat kualitas waktu software developer menjadi rendah, dan dengan keadaan tersebut perusahaan masih mengharapkan semua pekerjaan (on-scope) untuk selesai tepat waktu (on-time)? Sungguh tidak masuk akal bukan?

Manajemen gaya feodal

Sejarah mencatat kalau pada sekitar abad 17-an Spanyol dan Inggris memiliki cara yang cukup berbeda untuk memperkaya dirinya. Menurut sudut pandang Spanyol, kekayaan di bumi itu berjumlah tetap, sehingga cara mereka untuk memperkaya dirinya adalah dengan mengambil sebanyak mungkin emas dari negara yang mereka jajah dan membawa semuanya kembali ke Spanyol. VOC dapat dikatakan juga memiliki cara berpikir yang sama dengan penjajah Spanyol. Sedangkan Inggris berpikir kalau teknologi dan inovasi adalah cara yang efektif untuk mereka dapat memperkaya dirinya. Oleh karena itu pada masa itu Inggris mengalami revolusi industri sedangkan Spanyol mengalami inflasi karena mereka memiliki terlalu banyak emas di negaranya namun tidak cukup banyak pembeli.

Gaya manajemen di kebanyakan perusahaan software di Indonesia menggunakan cara feodal ala penjajah Spanyol atau VOC. Perusahaan ingin menyedot waktu yang sebanyak-banyaknya dari software developer untuk menyelesaikan pekerjaan sebanyak-banyaknya agar perusahaan tidak merugi sama sekali, persis dengan gaya Spanyol menjajah. Kalau pekerjaan belum selesai tepat waktu, maka software developer harus lembur. Kalau software developer tidak kelihatan sibuk dan kelihatan sering melamun mereka akan diberikan proyek untuk dikerjakan secara paralel sebanyak mungkin. Lagi-lagi ini juga ditambah oleh pemikiran kalau software developer adalah sebuah resource yang perlu dioptimalkan bukan seorang manusia.

Bersambung...

...ref : https://medium.com/modern-management/5-mitos-di-industri-software-development-indonesia-df5045350e45...

Share This

Comments