Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia
Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia - Part 2

Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia - Part 2

2. Obsesi mengukur software developer

Fear invites the wrong figures. No one can enjoy his work if he will be ranked with others.
— W. Edwards Deming

Mindset kuno berikutnya adalah obsesi yang terlalu berlebihan dalam mengukur produktifitas software developer. Secara manusia kita akan mengukur apa yang menurut kita mudah untuk diukur, misal:

  • berapa banyak pekerjaan yang diselesaikan dalam satu satuan waktu;
  • berapa jam yang dihabiskan untuk menyelesaikan satu pekerjaan;
  • jumlah bugs;
  • tingkat keakuratan estimasi.

Namun angka-angka ini tidak menjelaskan apapun mengenai performa perusahaan kita dan tidak menggambarkan nilai dari software yang dikembangkan oleh software developer. These numbers create fake certainty. Inilah produk jaman order baru, kita dibutakan dari realita dan dibuat nyaman oleh ilusi.

Lewat angka-angka dari sistem ukuran yang telah ditetapkan sepihak, pimpinan perusahaan dan manajemen ingin mengetahui apakah ia sedang dikhianati oleh pegawainya, apakah pegawainya malas-malasan selama di kantor. Dengan melihat angka-angka ini pimpinan perusahaan merasa tenang. Tapi ini adalah ketenangan semu (false comfort). Seorang Scrum Master di Jakarta pernah mengatakan kepada saya, hanya karena seseorang sudah menikah bukan berarti tidak ada kemungkinan pasangannya berselingkuh dengan orang lain. Software developer bisa saja datang tepat waktu setiap hari dan sibuk menyelesaikan semua fungsionalitas, namun semua yang mereka kerjakan tersebut bisa saja tidak membawa dampak apapun terhadap perusahaan.

Secara manusia kita lebih terkesima dengan apa yang bisa dilihat daripada apa yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Kita tidak suka dengan teori yang abstrak, kita lebih suka diberi-tahu praktik secara eksplisit dan praktis. Kita lebih tertarik dengan ‘bagaimana’ daripada ‘kenapa’. Kita dididik untuk mengukur apa yang kelihatan walaupun yang apa kelihatan dan apa yang bisa diukur tidak selalu penting untuk diukur. Contohnya bila saya tanyakan kepada anda: mana yang ‘lebih’ penting, jumlah koruptor yang sudah ditangkap atau jumlah koruptor yang belum tertangkap? Angka jumlah koruptor yang belum ditangkap jauh lebih penting karena hingga hari ini mereka masih menggerogoti kekayaan negara tanpa ada yang bisa melihat, namun hingga hari ini kita tidak tahu berapa banyak jumlah mereka dan berapa banyak jumlah kekayaan negara yang sedang mereka gerogoti.

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts.
— Albert Einstein

Seringkali hal yang paling mudah untuk diukur memiliki nilai yang rendah karena hal yang paling mudah untuk diukur memiliki tingkat ketidak-pastian yang rendah. Misal: nilai saham perusahaan yang tinggi di bursa saham adalah perusahaan yang bergerak memiliki ketidak-pastian yang tinggi seperti perusahaan-perusahaan bioteknologi. Dalam konteks software development, mengukur value dan outcome dari software cenderung lebih sulit tetapi lebih bernilai. Dalam konteks software development yang lebih penting diukur selain value dan outcome adalah: collaboration, culture, creativity, code cleanliness, self-management. Namun karena hal-hal ini sulit untuk diukur dan tidak bisa dilihat, kita tidak mengukurnya dan kita justru meremehkan kemampuan kita sendiri dengan mengukur hal-hal yang lebih mudah untuk diukur walaupun hal-hal yang mudah diukur ini tidak penting.

Mari berikan software developer permen

Kita telah dididik sejak di perguruan tinggi kalau segala sesuatu dalam dunia ini memiliki hubungan sebab-akibat yang bersifat linier, artinya kalau 2 variabel memiliki sebuah hubungan sebab-akibat maka masukan stabil di satu variabel harus menghasilkan sesuatu di variable lainnya. Contohnya: jika software developer diberi bonus maka seharusnya performa mereka meningkat. Kalau manajemen meminta 100 fitur dalam waktu yang telah ditentukan maka software developer harus menghantarkan seluruh 100 fitur tersebut, bila mereka tidak bisa melakukannya berarti performa mereka dinilai buruk. Kalau performa mereka buruk maka logikanya adalah mereka harus dihukum atau tidak mendapatkan bonus. Tetapi ini adalah bentuk pembodohan karena kita memperlakukan software developer seperti seorang anak kecil yang harus dihukum bila berbuat salah dan diberikan permen bila berbuat baik.

Hubungan linier antara sebab-akibat lebih mudah diserap oleh akal sehat kita, sedangkan hubungan non-linier bersifat abstrak dan sulit dijelaskan lewat sebuah kalimat sehingga sulit diserap oleh otak kita. Otak kita lebih suka memfilter segala sesuatu yang abstrak dan hanya menerima segala sesuatu yang bersifat linier, walaupun realitanya fenomena alam semesta ini lebih banyak yang bersifat non-linier. Banyak hal penting dalam software development justru yang tidak bisa dilihat dan sulit diukur. Hati kita harus sangat ikhlas untuk menerima realita ini bila kita ingin melihat kemajuan di ekosistem software development di Indonesia.

Bersambung...

MITOS KUNO PENJAJAH EKOSISTEM SOFTWARE DEVELOPMENT INDONESIA

1Software developer adalah pekerjaan kasta bawah

2Obsesi mengukur software developer

3. Tidak bisa menerima ketidak-pastian

4. Yang penting jalan dulu deh

5. Kekuatan politik selalu menang

---

...Ref : https://medium.com/modern-management/5-mindset-kuno-penjajah-ekosistem-software-development-indonesia-47e17f33cbe3...

Share This

Comments