Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia
Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia - Part 4

Mindset Kuno Penjajah Ekosistem Software Development Indonesia - Part 4

4. Yang penting jalan dulu deh

Any fool can write code that a computer can understand. Good programmers write code that humans can understand.
— Martin Fowler

Sebagai praktisi software development, kita akan sangat religius untuk menghabiskan waktu untuk menganalisa dan membuat dokumentasi tanpa menghasilkan value untuk kostumer kita. Tetapi di lain sisi kita bisa tidak religius dalam menulis kode yang bersih yang secara nyata memberi value untuk kostumer dalam jangka waktu panjang. Mindset ini sudah dibentuk semenjak kuliah karena dosen lebih menekankan mahasiswa di tingkat akhir untuk religius dalam menganalisa sistem daripada refactoring dan clean coding. Kita tidak dididik untuk memiliki mindset software code quality first.

Akibat cara didik seperti ini, banyak mahasiswa lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang jago menganalisa dan menulis dokumen indah namun tidak tahu bagaimana menulis kode yang bersih. Dan lucunya adalah lulusan seperti ini yang menjadi system analyst di perusahaan yang memberi instruksi kepada software developer. Akibatnya hingga hari ini banyak software di perusahaan Indonesia yang memiliki banyak technical debts. Technical debt ini akhirnya membuat bisnis susah kompetitif di pasar dan sering mendapat sumpah serapah dari pengguna di sosial media. Dan di saat technical debt semakin banyak, kita bukannya menghabiskan lebih banyak waktu untuk membersihkan kode namun kita akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menganalisa sistem agar tidak menyenggol fungsionalitas lain. Akhirnya sebagai manajer kita lebih memilih seorang analis menghabiskan waktu untuk menganalisa sistem dengan mengorbankan jadwal milik software developer dan tester. Lingkaran setan ini terjadi karena fundamental berpikir yang f*cked up.

Sampai ke startup juga

Kita masih belum belajar kalau pada akhirnya yang membuat perusahaan lebih kompetitif di pasar adalah kualitas kode BUKAN kuantitas waktu yang dihabiskan dalam menganalisa sistem. Contoh nyatanya sudah terlihat di beberapa perusahaan startup di Indonesia yang aplikasinya sering mengalami masalah secara regular pada jam-jam tertentu.

Sebuah institusi pemerintahan yang saat ini ditugaskan untuk mengembangkan ribuan startup pun tidak menekankan pentingnya menulis kode software dengan bersih dan benar. Startup-startup dibawah binaan mereka diajarkan mengenai konsep-konsep seperti Design Sprint dan Growth Hacking, tetapi mereka tidak diajarkan mengenai software craftmanship. Angka ribuan startup lebih penting daripada kualitas software yang dihasilkan.

Hackaton pun menjadi komoditas

Kultur dan cara berpikir ‘yang penting jalan dulu deh’ semakin diperparah oleh maraknya hackaton yang diadakan perusahaan-perusahaan yang menjadikan software developer sebagai komoditas belakangan ini. Hackaton akan menjuruskan orang-orang untuk menulis kode kotor karena tujuan dari hackaton adalah menghasilkan quick hack. Yang lebih parah lagi adalah beberapa perusahaan dengan bangga memasukkan quick hack ini ke lingkungan produksi. Karena budaya dan ekosistem software development di Indonesia belakangan ini mengarahkan software developer ke pola pikir quick hack secara tidak langsung kita telah mengembangkan banyak dirty coder yang tidak peduli dengan kualitas di negeri ini daripada software craftsman.

Menekan cost daripada meningkatkan value

Selain didikan dari kampus yang tidak menekankan kualitas kode kepada para mahasiswa, mindset ‘yang penting jalan dulu deh’ juga berkembang karena developer tidak diijinkan perusahaan untuk menulis kode dengan bersih karena menurut pimpinan perusahaan hal tersebut akan menghabiskan waktu lebih lama. Di mata pimpinan perusahaan yang memandang software developer sebagai buruh pabrik, software murah-meriah semurah kacang goreng lebih penting dibandingkan software berkualitas. Pimpinan perusahaan ini memiliki mindset yang menekankan cost daripada meningkatkan value.

Dalam dunia aviasi, segala prosedur harus dilakukan secara benar walaupun tidak jarang hal tersebut harus mengorbankan waktu penumpang. Mindset dalam dunia aviasi adalah: keselamatan penumpang lebih penting daripada waktu milik penumpang yang hilang. Mindset seperti ini juga bisa kita temukan di dunia kedokteran. Namun di industri software development Indonesia, memasukkan quick hack secepat mungkin bukanlah sebuah masalah karena bugs di lingkungan produksi bisa ditangani oleh customer support yang akan menjawab sumpah serapah pengguna. Kalau segenap pihak di bangsa ini tidak menekankan pola pikir code quality first, kualitas software yang dihantarkan karya bangsa ini akan diremehkan oleh bangsa lain dan kita tidak bisa berkompetisi dengan bangsa lain di abad 21.

Bersambung...

MITOS KUNO PENJAJAH EKOSISTEM SOFTWARE DEVELOPMENT INDONESIA

1Software developer adalah pekerjaan kasta bawah

2Obsesi mengukur software developer

3. Tidak bisa menerima ketidak-pastian

4. Yang penting jalan dulu deh

5. Kekuatan politik selalu menang

---

 

 

...Ref : https://medium.com/modern-management/5-mindset-kuno-penjajah-ekosistem-software-development-indonesia-47e17f33cbe3...

Share This

Comments